Laporan Pascagempa NTT: Tim HSI BERBAGI Salurkan Logistik, Petakan Kelumpuhan Infrastruktur di Manggarai Timur

By: hardi

Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI terus bergerak menyalurkan logistik ke beberapa wilayah yang terdampak langsung gempa, untuk memenuhi kebutuhan dasar sementara penyintas. Foto-foto; Muhammad Nashir/ Dok HSI BERBAGI.

Manggarai Timur, news.berbagi.id — LAZ HSI Berbagi mendistribusikan total 290 kilogram beras, 15 karton mi instan, dan 55 liter minyak goreng untuk warga di tiga kampung terpencil di Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (4/9/2026).

Penyaluran logistik darurat ke Kampung Nangalok, Kampung Moralante, dan Kampung Kas ini dilakukan bersamaan dengan proses pemetaan (asesmen) berkala. Langkah terintegrasi ini diterapkan agar bantuan pangan yang diserahkan tidak hanya menjawab kebutuhan darurat saat itu, tetapi juga berfungsi sebagai basis data akurat di lapangan.

“Penyaluran ini kami jalankan bersamaan dengan asesmen agar bantuan tepat sasaran, sekaligus memetakan langsung kondisi fasilitas umum yang lumpuh,” ujar Dovit, relawan HSI BERBAGI yang memimpin tim lapangan bersama Adhi Setyawan dan Muhammad Nashiruddin.

Tempat Ibadah Lumpuh, Warga Gunakan Fasilitas Seadanya

Masjid Nur Falak Randang, Desa Sarang Burung, Kecamatan Sambi Rampas mengalami kerusakan dan dinding retak, membuat warga khawatir untuk melaksanakan sholat berjamaah di dalam masjid.

Berdasarkan hasil penyisiran tim sejak 2 September, guncangan tektonik M7,7 yang lalu telah melumpuhkan aktivitas keagamaan masyarakat muslim di beberapa kecamatan. Di Kampung Tengah, Desa Nampar Sepang, bangunan Masjid Al-Amin runtuh total akibat gempa.

Kondisi serupa menimpa Masjid Nur Salam Tompong, di mana strukturnya rusak parah, sehingga harus dibongkar sepenuhnya demi keamanan. Untuk sementara, warga Tompong terpaksa beribadah di bawah tenda darurat yang belum layak karena baru beralaskan terpal seadanya.

Sementara itu, Masjid Nurul Iman di Kampung Logo, Desa Nanga Mbalin, juga mengalami kerusakan berat yang membuat 48 Kepala Keluarga (KK) setempat kehilangan tempat ibadah utama, walaupun untuk kebutuhan pangan harian mereka telah disokong posko darurat DU LMI. Di wilayah Mbaru Jawa, Kelurahan Pota, tim mencatat sedikitnya 20 rumah warga roboh yang berdampak langsung pada nasib 40 KK.

Tantangan geografis yang lebih berat dihadapi oleh 48 KK di Kampung Nangarema, Desa Haju Wangi, Kecamatan Lamba Leda Utara. Selain bangunan Masjid Nurul Barokah yang rusak berat, jalur evakuasi dan pengiriman logistik ke lokasi tersebut sangat sulit karena tim harus menyeberangi sungai. Kampung ini juga dilaporkan terisolasi tanpa pasokan listrik maupun internet.

Madrasah Roboh Hingga Ancaman Gelombang Pasca-Gempa

Rumah Qur’an (TPQ) di Kampung Randang mengalami kerusakan berat dampak gempa tektonik, akibatnya para siswa kini tidak dapat belajar seperti biasanya.

Sektor pendidikan anak-anak di Manggarai Timur ikut terpukul akibat bencana ini. Bangunan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Hidayah Tompong di Desa Nampar Sepang roboh merata dengan tanah, menyebabkan kegiatan pembelajaran formal anak-anak sekolah berhenti total karena kehilangan ruang kelas. (baca juga berita; https://news.berbagi.id/laporan-langsung-pasca-gempa-ntt-sulit-air-bersih-warga-berwudhu-dengan-air-asin)

Beban warga di Desa Nampar Sepang semakin berlipat, selain kehilangan sekolah dan masjid, wilayah pesisir yang dihuni sekitar 80 KK terdampak ini sempat dihantam kenaikan air laut hingga setinggi 2 meter pascagempa. Dengan kondisi aliran listrik yang masih padam total, kebutuhan akan tambahan sembako, pakaian, serta terpal untuk pelindung tempat tinggal sementara menjadi sangat kritis di lokasi ini.

Bergeser ke wilayah Pota, tim mendatangi Masjid At-Taqwa Tutarasa. Meski struktur utama bangunan masih berdiri tegak, guncangan gempa merontokkan seluruh bagian plafon masjid. Sebagian besar masyarakat di sekitar masjid memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian karena kondisi rumah mereka belum memungkinkan untuk ditempati kembali.

Memulihkan Trauma Anak

Dalam memetakan kondisi lapangan, tim HSI BERBAGI juga tengah menyiapkan kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban gempa yang direncanakan bertempat TPQ Baras, Golo Nila.

Selain sekolah formal, sarana Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kampung Randang juga rusak parah. Untuk mencegah kelumpuhan aktivitas mengaji anak-anak, warga setempat saat ini mendambakan bantuan tenda darurat sebagai ruang belajar mengaji sementara.

Langkah survei lahan untuk pendirian tempat ibadah dan belajar sementara ini juga terus dimatangkan tim di kawasan Tompong dan Logo.

Adapun demi membantu meredam sisa trauma psikologis anak-anak di pengungsian, tim LAZ HSI Berbagi bersama Tim Relawan Asyamil mulai melakukan pendataan jumlah anak secara riil di posko-posko. Data ini dipersiapkan sebagai basis pelaksanaan program psikososial “Ceria Anak bersama Kak Wasit”, dengan salah satu titik pusat kegiatan yang dijadwalkan berada di TPQ Baras, Golo Nila.

”Hasil survei dan pendataan tersebut akan menjadi bahan persiapan pelaksanaan kegiatan Ceria Anak agar dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran,” ujar Dovit sembari mengatakan saat ini tim terus  bergerak sesuai kebutuhan di lokasi bencana. (sbn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *