Laporan Langsung Pasca Gempa NTT: Sulit Air Bersih, Warga Berwudhu dengan Air Asin

By: hardi

Leny Hasanah- Program Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Kondisi terkini perkampungan warga penyintas yang dikunjungi tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI, bangunan rumah terlihat banyak yang rusak dan sebagian besar warga masih menetap di tenda-tenda pengungsian. Air bersih menjadi kendala, butuh perhatian dari semua pihak dalam memberikan bantuan. Foto-foto: Muhammad Nashir/ Dok HSI BERBAGI.

Nusa Tenggara Timur, news.berbagi.id – Keterbatasan air bersih pasca gempa M7,7 15 Agustus 2026 lalu membuat warga terdampak di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di Kampung Rawuk, Kabupaten Ngada, warga harus membayar sekitar Rp75.000 untuk mendapatkan air dari kendaraan distribusi. Sementara di beberapa lokasi lain, warga masih menggunakan air payau atau air asin dari sumur untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk berwudhu.

Kondisi tersebut ditemukan langsung oleh Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGIi selama melaksanakan asesmen lapangan di sejumlah wilayah Kabupaten Nagekeo, Ngada, hingga Manggarai Timur. Kegiatan asesmen dilakukan bersamaan dengan penyaluran bantuan logistik untuk melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat terdampak secara langsung.

Dalam mobilitas di lapangan, tim yang terlibat terdiri dari sembilan personel gabungan, yakni dua personel Posko An-Nur, tiga personel HSI Berbagi, yakni Dovit Agususilo, Adi Setyawan, dan Muhammad Nashir, tiga relawan Asyamil, serta satu pengemudi, dengan menggunakan satu mobil pikap dan satu mobil Ertiga.

Mata Air Terbatas di Kampung Rawuk

Tim HSI BERBAGI menyusuri jalan menuju Desa Ten Terong Satu, Rawuk. Desa ini menjadi salah satu wilayah yang sangat kering, sehingga warga kesulitan mendapatkan air bersih pasca gempa.

Di Kampung Rawuk, Desa Ten Terong 1, Kabupaten Ngada, persoalan air bersih menjadi salah satu kebutuhan prioritas yang ditemukan tim. Wilayah yang dihuni sekitar 400 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas warga muslim ini memiliki sumber mata air yang sangat terbatas. Sumber tersebut berukuran kecil dan kondisinya kurang bersih setelah terdampak gempa.

Ketika warga mengambil air menggunakan dua ember kecil, sumber tersebut dapat habis sehingga warga harus menunggu sekitar satu jam hingga air kembali tersedia. (baca berita sebelumya; (baca berita sebelumnya; https://news.berbagi.id/gempa-ntt-sumur-menghitam-tryani-dan-warga-rawuk-krisis-air-bersih-serta-logistik)

Keterbatasan air tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi warga yang masih berada di tempat pengungsian. Terdapat sekitar empat tenda yang digunakan sebagai tempat evakuasi, dengan sekitar sembilan KK di setiap tenda. Beberapa rumah warga mengalami kerusakan berat hingga roboh, sementara masyarakat masih mengalami trauma terhadap gempa susulan.

Karena lokasi permukiman berada di ujung wilayah dan cukup jauh dari jalan utama, warga harus membeli air dari kendaraan distribusi dengan biaya sekitar Rp75.000.

Warga Desa Bekek Gunakan Air Payau

Salurkan bantuan logistik di beberapa wilayah yang dikunjungi untuk memastikan kebutuhan dasar pangan warga penyintas dapat terpenuhi sementara.

Asesmen berlanjut ke Desa Bekek, Kabupaten Ngada, wilayah pesisir yang dihuni sekitar 300 KK. Saat peringatan tsunami pada 15 Agustus 2026, masyarakat setempat melakukan evakuasi mandiri menuju daerah pegunungan. Hingga asesmen dilakukan, sebagian warga masih bertahan di daerah pegunungan karena sejumlah rumah mengalami kerusakan, sebagian tidak dapat dihuni, dan beberapa lainnya roboh.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk berwudhu, warga di Desa Bekek masih menggunakan air payau atau air asin yang diperoleh dari sumur. Tim juga mengunjungi Masjid Al-Fajr di desa tersebut yang mengalami keretakan pada bangunan, sehingga memerlukan perhatian lebih lanjut terkait kelayakannya untuk digunakan.

Sementara, di Desa Riung, Kabupaten Ngada, kebutuhan air untuk masjid telah mendapatkan bantuan. Namun, ketersediaan air bersih untuk kebutuhan masyarakat secara umum di wilayah tersebut masih terbatas dan belum mencukupi.

Kondisi Air di Mbay dan Rumah Qur’an di Pota

Sebelum bergerak ke Ngada, Tim HSI Berbagi telah melakukan penyaluran bantuan awal dan asesmen di Mbay, Kabupaten Nagekeo. Di lokasi ini, masyarakat juga masih menggunakan air asin untuk kebutuhan berwudhu.

Tim menyalurkan bantuan logistik berupa 10 kilogram beras, 2 liter minyak goreng, dan 2 dus air mineral kepada keluarga Ustadz Hamli, dai yang aktif berdakwah di wilayah tersebut. Berdasarkan kunjungan ke Masjid Ar-Rahman Mbay yang digunakan untuk ibadah dan TPA, kegiatan pembelajaran di sana masih membutuhkan bantuan berupa Al-Qur’an dan buku Iqra.

Setelah menyelesaikan agenda di Ngada, tim melanjutkan perjalanan menuju Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, dan tiba di Rumah Qur’an Nashrul Haq pada Senin (31/8) pukul 20.00 WITA.

Pada Selasa (1/9) pagi, tim berkoordinasi dengan Ustadz Bukhoro untuk memastikan kondisi  terkini. Bangunan Rumah Qur’an yang sebelumnya setengah roboh, kini telah dirobohkan dan dibangun tempat sementara dari bahan galvalum melalui dukungan lembaga Markaz Bersama As-Sunnah (MBA).

“Alhamdulillah sudah dirobohkan dan dibangun tempat sementara dari bahan galvalum, disupport oleh lembaga Markaz Bersama As-Sunnah (MBA),” kata Dovit.

Mengenai kondisi ekonomi, aktivitas masyarakat dan wali santri di Pota dilaporkan mulai berangsur normal. Beberapa warga telah kembali ke rumah dengan membuat tenda secara mandiri di depan rumah mereka. Namun, bagi warga di wilayah pesisir, pada malam hari mereka masih kembali ke tenda di perbukitan karena khawatir tsunami, karena masa tanggap darurat disebut diperpanjang hingga 12 September 2026.

Penyaluran Bantuan Logistik Lapangan

Penuh suka cita warga menyambut kehadiran tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI di lokasi bencana yang dikunjungi.

Selain melakukan asesmen dan memastikan kondisi warga terdampak, tim HSI Berbagi telah merealisasikan penyaluran logistik berupa 100 kilogram beras, 31 liter minyak goreng, dan 20 dus air mineral di Desa Ten Terong 1. Bantuan logistik juga disalurkan untuk warga di Desa Tadho berupa 15 kilogram beras, 3 liter minyak goreng, dan 3 dus air mineral.

Dovit mengatakan bantuan logistik yang diterima masyarakat sudah mencukupi dari berbagai pihak. Namun, bantuan tetap masih dibutuhkan hingga masyarakat dapat kembali bekerja secara normal.

“Alhamdulillah, tapi tetap masih dibutuhkan hingga masyarakat bisa bekerja normal kembali,” jelasnya.

Tim HSI Berbagi dijadwalkan terus melanjutkan kegiatan asesmen lapangan. Hasilnya, akan dilaporkan untuk menjadi dasar pengajuan giat berikutnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak yang membutuhkan bantuan segara. (sbn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *