Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI tiba di Kampung Rawuk, Desa Taen Terong Satu memberikan bantuan, setelah menempuh perjalanan dengan kondisi infrastruktur yang rusak parah pasca gempa. Foto-foto; Muhammad Nashir/ Dok HSI BERBAGI.
NGADA, news.berbagi.id — Tryani tidak menyangka bahwa daerah tempat tinggalnya di ujung pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) disambangi oleh Tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI. Di momen itu, perasaan bahagia bercampur haru pun menyelimuti Tryani beserta keluarga.
Kehadiran para relawan di tengah masa sulit pascaguncangan gempa bumi Magnitudo 7,7 di bumi Flores tersebut membawa kesan mendalam, sekaligus rasa syukur bagi dirinya dan warga yang kini masih bertahan di posko pengungsian.
“Sangat bersyukur dan alhamdulillah. Sebelumnya Try mau bilang terimakasih Pak, suda bantu Try karena tim HSI BERBAGI bisa sampai di desa” ungkap Tryani, warga Kampung Rawuk, Desa Taen Terong Satu, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada melalui pesan singkatnya kepada redaksi news.berbagi.id, usai menerima kedatangan tim HSI BERBAGI pukul 12.00 WITA.
Kedatangan tim HSI BERBAGI ke desa Tryani, memang cukup menyita waktu dan perjuangan. Pasalnya harus menempuh perjalanan dengan keadaan akses jalan yang masih rusak parah dan menembus lokasi terdalam.
Berjuang Melewati Medan Ekstrem

Menembus Kampung Rawuk di tengah kondisi infrastruktur yang rusak pascabencana terbilang tidak mudah. Tim kemanusiaan yang digawangi oleh Dovit Agususilo, Adhi Setyawan, dan Muhammad Nashiruddin harus berkendara menyusuri jalur pegunungan yang ekstrem dari arah Mbay.
“Masyaallah, perjalanan kami menanjak ke puncak wilayah pegunungan. Sampai di puncak, kemudian turun melandai. Nah, itu perjalanan menuju lokasi desa Kak Tryani,” cerita Dovit mengenai kondisi di lapangan.
Dovit menambahkan bahwa jalurnya memiliki banyak tanjakan dan turunan yang ekstrem. “Ada lubang-lubang besar. Kondisi kanan kiri tandus meskipun ada mata air, tapi tidak mengatasi panasnya kondisi cuaca. Bukit-bukit juga menguning,” tambahnya. Desa Taen Terong sendiri merupakan desa terakhir yang setelahnya sudah berupa hutan belantara.
Dampak Gempa dan Krisis Air Bersih

Saat ini warga penyintas di Kampung Rawuk, sebagian besar masih mengungsi di tenda- tenda secara mandiri, maupun tenda posko pengungsi.
Di Kampung Rawuk yang dihuni sekitar 400 Kepala Keluarga (KK), dampak gempa terlihat signifikan. Terdapat beberapa rumah warga yang mengalami kerusakan berat hingga hancur. (baca berita sebelumnya: https://news.berbagi.id/gempa-ntt-sumur-menghitam-tryani-dan-warga-rawuk-krisis-air-bersih-serta-logistik)
Sebanyak 30 persen warga hingga saat ini masih mengungsi di tenda. Mereka belum bisa menempati kembali tempat tinggalnya karena bangunan rumah retak dan khawatir akan adanya gempa susulan. Saat ini terdapat sekitar 4 tenda pengungsian, dengan kapasitas sekitar 9 KK per tenda.
Kondisi tersebut dibarengi dengan keterbatasan air bersih. Kondisi mata air di wilayah tersebut sangat kecil dan terlihat menghitam akibat terdampak gempa. Ketika warga mengambil air menggunakan dua ember kecil, sumber mata air tersebut dapat langsung habis. Warga harus menunggu kurang lebih 1 jam sebelum air dapat digunakan kembali.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat sebelumnya harus mengambil air dari sawah. Pilihan lainnya adalah membeli air menggunakan mobil kontainer distribusi air dengan biaya sekitar Rp75.000.
Salurkan Logistik, Warga Berharap Perbaikan Rumah

Rumah warga Kampung Rawuk tampak roboh dan hancur, pasca gempa M7,7 yang mengguncang bumi Flores Sabtu pagi, 15 Agustus 2026 lalu.
Untuk meringankan beban warga, LAZ HSI Berbagi menyalurkan bantuan langsung ke lokasi. Logistik utama yang diserahkan berupa 100 kilogram beras, 31 liter minyak goreng, dan 20 dus air mineral kemasan.
Selain paket pangan pokok tersebut, warga juga menerima galon, mi instan, telur, sabun, detergen (rinso), popok bayi (pampers), susu bayi, minyak telon, dan obat-obatan.
Tryani menjelaskan bahwa perhatian dan bantuan yang diberikan ini memang sangat-sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Alhamdulillah lumayan mencukupi,” tutur alumni PG PAUD Universitas KH Abdul Halim Mojokerto tersebut.
Meski kebutuhan pokok atau sembako saat ini dinilai sudah mencukupi, harapan masyarakat Kampung Rawuk ke depan adalah adanya bantuan berupa renovasi rumah. Hal ini menjadi prioritas agar warga terdampak bisa segera kembali dari tenda pengungsian ke rumah masing-masing.
Di akhir perjumpaan, Tryani menyampaikan apresiasi dan doa kepada tim kemanusiaan yang bertugas.
“Terima kasih kepada tim HSI Berbagi karena sudah memberikan bantuan yang sangat bermanfaat bagi kami. Pesan kami kepada tim HSI Berbagi, semoga selalu dilindungi Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun berada dan semoga selalu diberikan kesehatan, dimudahkan segala urusannya. Aamiin,” tutup Tryani. (sbn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar