Ustadz Fuad: Pejuang Dakwah di Pelosok Banten Selatan

By: hardi

Leny Hasanah- Kafilah Dakwah

Dalam menebar dakwah, Ustadz Fuad hadir membersamai masyarakat dalam belajar dan mengenal Islam sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Foto-Foto; Dok HSI BERBAGI.

Banten, news.berbagi.id – Di pelosok negeri, masih banyak kita jumpai saudara kita yang hidup jauh dari akses ilmu agama. Masjid ada, namun kajian jarang. Anak-anak ingin belajar Al-Qur’an, tetapi kekurangan guru dan fasilitas.

Bahkan, sebagian harus menempuh jarak jauh hanya untuk belajar membaca iqra dan memahami dasar-dasar Islam. Keterbatasan ini bukan karena mereka tidak ingin belajar, tetapi karena sarana dan dukungan yang belum memadai. 

Alhamdulillah, di tempat-tempat seperti itulah Program Kafilah Dakwah HSI BERBAGI hadir, mengirim para dai untuk membersamai masyarakat pelosok dalam belajar dan mengenal Islam sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah.

Salah satu dai yang saat ini menjalankan amanah tersebut adalah Ustadz Fuad Muzaky, peserta Program Kafilah Dakwah HSI Berbagi yang bertugas di wilayah Banten Selatan, Kabupaten Lebak.

Sejak Oktober 2024, dirinya sudah mulai berdakwah dan membina masyarakat di daerah tersebut. Hari-harinya dipenuhi berbagai aktivitas dakwah: mengajar tahsin Al-Qur’an ba’da Subuh, mengisi halaqah tahfidz, mengajar tahfidz di SMP IT, hingga menyampaikan kajian tauhid, sirah, tafsir, dan bahasa Arab untuk masyarakat umum maupun santri. Namun, perjuangan dakwah di pelosok tidak selalu berjalan mudah.

Asap Rokok di Musala Kecil

Malam itu musala kecil di pelosok Banten Selatan, Banten terlihat ramai. Orang-orang datang satu per satu, duduk lesehan di lantai sederhana. Tak lama kemudian, ruangan mulai dipenuhi asap rokok. Bukan satu dua batang. Hampir semua jamaah laki-laki merokok di dalam musala.

Di hadapan mereka, Ustadz Fuad Muzaky tetap duduk tenang. Mengisi kajian seperti biasa. Tidak marah. Tidak membentak. Tidak juga langsung bicara panjang tentang rokok dan adab di rumah Allah. Meski secara pribadi merasa kurang nyaman, dia memilih tetap melanjutkan kajian karena melihat antusias jamaah untuk hadir dan belajar agama.

“Semoga Allah perlahan membuka hati mereka dengan cahaya sunnah,” tutur Fuad bermunajat.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi dari situ lah kita mungkin bisa memahami: dakwah di pelosok ternyata tidak selalu dimulai dari forum megah, jamaah besar, atau masyarakat yang siap menerima nasihat.

Kadang dimulai dari asap rokok. Dari musala sederhana. Dari penolakan. Dan dari kesabaran yang panjang. Itu adalah sebagian kecil ujian dalam menyampaikan risalah Allah.

Hadir di Tengah Masyarakat Awam

Ustadz Fuad bergabung dalam Program Kafilah Dakwah HSI Berbagi dan mulai berdakwah di wilayah Banten Selatan. Daerah yang dia datangi, tentu saja bukan tempat yang sudah akrab dengan kajian sunnah.

Saat pertama kali datang, kondisi masyarakat setempat disebut masih sangat awam terhadap ilmu agama. Ada yang meninggalkan shalat. Ada tradisi-tradisi yang tidak sesuai tuntunan syariat. Budaya mengikuti tokoh tanpa memahami dalil, juga masih begitu melekat di tengah masyarakat.

Namun, justru kondisi tersebut membuat Ustadz Fuad merasa dakwah di pelosok sangat penting. “Dakwah di pelosok adalah dakwah yang sangat strategis,” ujar santri HSI AbdullahRoy ber-NIP ARN212 ini mantap.

Menurut dia, tidak semua masyarakat memiliki akses mudah untuk belajar agama dengan benar. Banyak masyarakat dengan latar belakang pendidikan, ekonomi, budaya, dan tradisi yang beragam, sehingga membutuhkan perhatian dan pendekatan dakwah yang lebih besar.

“Saya memilih berdakwah di pelosok bukan hanya karena bentuk pengabdian, tetapi juga karena dorongan kuat dari dalam diri. Tidak sedikit kondisi masyarakat yang justru menjadi penghalang bagi mereka untuk belajar agama dengan baik,” ungkapnya.

Karena itu, kehadiran seorang dai di pelosok sangat penting, bukan sekadar mengisi kajian. Seorang dai juga harus menjadi tempat bertanya, teman berdiskusi, sekaligus orang yang perlahan membantu masyarakat memahami agama dengan benar. Walaupun jalannya tidak pernah mudah.

Hadapi Tantangan Berat

Sebagai seorang dai, dirinya menjadi tempat bertanya, teman berdiskusi, sekaligus sebagai orang yang perlahan membantu masyarakat memahami agama dengan benar. Meski, tidak mudah.

Dalam perjalanan menyiarkan dakwah sunnah, Ustadz Fuad kerap tersandung kerikil tajam. Salah satu yang paling berat adalah mengubah pola pikir masyarakat yang sudah terbiasa mengikuti tradisi menjadi masyarakat yang mau kembali kepada dalil.

”Terkadang tidak cukup hanya menyampaikan dalil, tetapi juga perlu mengajak mereka berpikir dengan pendekatan yang mudah dipahami dan sesuai keadaan mereka,” jelasnya.

Tantangan berikutnya yang muncul adalah ketika mengajak anak-anak atau remaja untuk belajar agama. Sebagian orang tua merasa anak mereka sudah memiliki tempat mengaji sendiri.

”Ada kekhawatiran dari sebagian orang tua bahwa guru sebelumnya akan merasa tidak nyaman jika muridnya pindah ke majelis ilmu yang kami adakan,” imbuhnya.

Lelah yang Tetap Dijalani

Di tengah perjuangan itu, rasa lelah tentu pernah singgah di hidupnya. Ustadz Fuad mengaku pernah merasa sedih ketika melihat sebagian orang yang sudah mulai mengenal sunnah, namun belum bersemangat menghadiri kajian.

”Sudah berkali-kali diajak dan diingatkan, tetapi tetap futur dan jarang hadir menuntut ilmu. Hal itu terkadang membuat saya merasa sedih,” tuturnya.

Meski demikian, Ustadz Fuad menyadari bahwa tugas seorang dai adalah menyampaikan dan bersabar. “Hidayah ada di tangan Allah, sedangkan kewajiban kita adalah terus berusaha menyampaikan,” katanya.

Pengorbanan terbesar yang dia rasakan di antaranya adalah perjalanan jauh demi sebuah kajian. Beberapa kali harus menempuh perjalanan lebih dari 50 kilometer menuju Bayah untuk mengisi kajian.

Bahkan ada satu daerah berjarak sekitar 20 kilometer yang rutin beliau datangi dua kali sepekan, meskipun jamaah yang hadir terkadang hanya satu atau dua orang. “Padahal jumlah yang sudah mengenal sunnah lebih dari lima belas orang. Allahul musta’an,” ujarnya.

Walau terkadang dihantam rasa lelah, ada pula momen-momen yang menguatkan hatinya. Yang paling mengharukan, tambahnya, ketika melihat para lansia tetap antusias belajar bahasa Arab meskipun harus berulang kali menghafal dan sering lupa pelajaran. “Mereka tetap sabar dan istiqamah dalam belajar. Itu sangat menyentuh hati,” ungkapnya dengan nada bahagia.

Bagi Ustadz Fuad, semua itu adalah bagian dari ujian dakwah yang harus dijalani dengan kesabaran dan harapan agar Allah perlahan membuka hati masyarakat dengan cahaya sunnah.

Berjuang Hadapi Penolakan

Beberapa kali Ustadz Fuad merasakan getirnya penolakan saat berjuang menyebarkan dakwah yang haq. Dia pernah tidak diizinkan lagi mengisi kajian di sebuah musala karena adanya hasutan dari seseorang yang menolak dakwah sunnah. Kajian yang disampaikannya dianggap berbeda dari kajian umum yang biasa diadakan masyarakat setempat.

Dia bahkan pernah ditolak menjadi imam masjid karena adanya anggapan bahwa shalat tidak sah jika tidak membaca qunut Subuh dan tidak mengeraskan bacaan basmalah. Akibatnya,  sempat berhenti menjadi imam selama beberapa waktu, hingga akhirnya masyarakat sendiri yang meminta dirinya kembali mengimami shalat.

Dalam menghadapi semua itu, Ustadz Fuad memilih bersabar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. “Saya berusaha tetap fokus berdakwah sesuai kemampuan,” terangnya.

Dakwah Adalah Jalan Kemuliaan

Di tengah berbagai ujian, ada satu hal yang selalu menguatkan hati Ustadz Fuad: mengingat perjuangan Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. “Ketika melihat beratnya ujian yang dihadapi, saya merasa ujian yang saya alami masih sangat kecil dibanding perjuangan beliau,” tuturnya.

Ustadz Fuad juga sering mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ”Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”(QS. Ali ’Imran: 110)

Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan bahwa kemuliaan umat Islam terletak pada dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar.  

Allah juga berfirman: ”Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah adalah kebutuhan umat, dan keberuntungan sejati ada pada orang-orang yang berusaha memperbaiki manusia. ”Hal itulah yang terus menguatkan tekad saya untuk tetap berdakwah,” tandasnya.

Perjuangan yang Tidak Sia-sia

Bagi Ustadz Fuad, momen paling membahagiakan adalah ketika mulai terlihat perubahan pada masyarakat. Mulai tumbuh semangat belajar agama. Masyarakat mulai menerima dakwah sunnah dengan lebih terbuka. Sedikit demi sedikit, perubahan itu terlihat nyata.

“Perubahan-perubahan kecil seperti itu sangat membangkitkan semangat untuk terus berdakwah,” ungkapnya.

Kini, hari-harinya diisi dengan berbagai aktivitas pembinaan masyarakat. Mulai dari tahsin Al-Qur’an ba’da Subuh, mengajar tahfidz di SMP IT, halaqah tahfidz, kajian tauhid, hingga pelajaran bahasa Arab untuk masyarakat umum dan santri.

Ustadz Fuad berharap makin banyak masyarakat yang mengenal sunnah dengan benar dan tumbuh semangat untuk memperdalam ilmu agama. “Saya juga berharap akan lahir lebih banyak orang yang ikut andil dalam menyebarkan sunnah dan mengajarkan agama kepada masyarakat sekitarnya,” tutupnya penuh harap.(sbn)

Komentar (2)

  1. Fajri abu aziz 10 May 2026

    Allahu akbar,,
    Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada saudara2 kita yang ada dipelosok dan semoga Allah Ta’ala mengaruniakan keteguhan dan keistiqomahan kepada para dai yang ada dipelosok, allahumma amin

    1. hardi 11 May 2026

      Allahumma Aamiin. Terima kasih atas doanya…
      Barakallhu fiik

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *