Tanggap Bencana NTT: Menuju Pota, Tim HSI BERBAGI Salurkan Beras dan Minyak Goreng

By: hardi

Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI belanja logistik berupa beras dan minyak goreng untuk disalurkan ke wilayah Pota, Nusa Tenggara Timur yang dinilai masih minim bantuan. Foto-foto; Nashier/ Dok HSI BERBAGI.

Nusa Tenggara Timur, news.berbagi.id – Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI bergerak menuju Pota, Nusa Tenggara Timur, Ahad (30/8/2026), membawa bantuan awal berupa 25 karung beras ukuran lima kilogram, 36 liter minyak goreng, dan 25 dus air minum.

Bantuan tersebut disiapkan untuk dibawa ke sejumlah titik yang akan disinggahi tim dalam perjalanan menuju Pota. Dari Ende, perjalanan menuju Pota diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh jam.

Pergerakan menuju Pota dilakukan setelah tim TB HSI Berbagi melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk memetakan lokasi yang membutuhkan bantuan. Pada Sabtu (29/8/2026) malam, tim berkoordinasi dengan Ustadz Anang selaku Ketua Posko di Ponpes An Nur Center. Koordinasi kemudian dilanjutkan pada Ahad pagi bersama Ustadz Muhammad selaku pembina posko.

Dari hasil koordinasi tersebut, tim mengantongi sejumlah informasi penting mengenai wilayah yang membutuhkan bantuan. Mbay dan Kecamatan Riung menjadi beberapa wilayah yang turut menjadi perhatian. (baca berita sebelumnya; https://news.berbagi.id/tiba-di-ende-tim-alfa-hsi-berbagi-siap-jalankan-misi-bantuan)

“Dari hasil diskusi, memang banyak titik yang perlu dibantu, di antaranya Mbay, di sini alhamdulillah sudah ada lembaga lain. Sedangkan di Riung, infonya juga sudah banyak NGO,” ujar Dovit Agususilo, anggota tim TB HSI Berbagi di NTT, Ahad (30/8/2026).

Setelah mempertimbangkan kondisi di sejumlah wilayah tersebut, tim memilih Pota sebagai salah satu lokasi yang perlu mendapat perhatian. Di Pota terdapat rumah Qur’an yang roboh akibat gempa dan saat ini sedang dibangun tempat sementara.

HSI BERBAGI menerjunkan relawan untuk menyalurkan bantuan dari amanah para muhsinin kepada saudara-saudara kita yang ditimpa musibah di lokasi bencana.

“Kami pilih Pota karena di sana ada rumah Qur’an yang roboh, yang saat ini sedang dibangunkan tempat sementara oleh Markaz Bersama As-Sunnah (MBA),” kata Dovit.

Rumah Quran tersebut memiliki sekitar 150 santri. Kegiatan belajar-mengajar di sana dibina oleh Ustadz Buchoro bersama sang istri, yang sebelumnya telah dikenal oleh Ustadz Muhammad.

Selain rumah Quran, rumah-rumah warga di sekitar TPA juga dilaporkan terdampak gempa. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tim untuk melakukan asesmen dan menyalurkan bantuan awal ke wilayah tersebut.

“Harapannya, kami bisa memperkuat kegiatan dakwah di sana, karena di sekitar TPA tersebut juga banyak rumah yang terdampak,” ujar Dovit.

Krisis Air bersih Menjadi Perhatian Tim

Tim Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI saat menyerahkan bantuan kepada warga di Wilayah Pota, Nusa Tenggara Timur.

Saat ini persoalan lain yang menjadi perhatian adalah akses air bersih. Berdasarkan informasi yang diterima tim, warga di Pota mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena tidak memperoleh akses air dari sumber air di gunung. “Sehari-hari mereka pakai air asin untuk mandi dan cuci,” tambahnya.

Saat dikonfirmasi pada Ahad sore, sekitar pukul 17.00 WITA, Dovit dan tim masih melakukan persiapan logistik untuk perjalanan menuju Pota. Mereka tengah membeli kebutuhan bantuan yang akan dibawa ke lokasi.

Tim menyiapkan 25 karung beras ukuran lima kilogram, 36 liter minyak, dan 25 dus air minum. Selain itu, tim juga menyiapkan kebutuhan bahan bakar untuk mendukung perjalanan.

Dalam perjalanan menuju Pota, Tim Tanggap Bencana HSI Berbagi bersama Asysyamil Peduli dan akan diantar oleh relawan dari Ponpes An Nur Center.

Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh, tim merencanakan bermalam di Mbay. Selama berada di Mbay, tim juga akan bertemu dengan Ustadz Hamdi, seorang dai yang berada di wilayah tersebut.

Perjalanan menuju Pota merupakan bagian dari asesmen lanjutan Tim Tanggap Bencana HSI Berbagi untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat dan kebutuhan di wilayah terdampak gempa.

Hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan bentuk bantuan berikutnya, termasuk bantuan yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi masyarakat terdampak. (sbn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *