Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Diksarnas I-DERU memberikan pembekalan dasar kepada para relawan LAZ HSI BERBAGI dalam menghadapi kondisi darurat dan kebencanaan. Foto-foto; Dok HSI BERBAGI.
Cianjur, news.berbagi.id – Lima personel Tanggap Bencana HSI BERBAGI mengikuti Pendidikan Dasar SAR Nasional (Diksarnas) VI I-DERU yang berlangsung selama tiga hari, Jumat–Ahad (28–30/8/2026), di kawasan kaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Keikutsertaan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas tim dalam menghadapi berbagai situasi darurat di medan bencana.
Relawan yang diterjunkan dalam pelatihan Diksarnas tersebut adalah Sopian Awaludin, Aspri Suseno, Irvan Maulana, Ahmad Sudiatmo, dan Muhammad Abdurrahman.
Diksarnas I-DERU memberikan pembekalan dasar kepada para relawan dalam menghadapi kondisi darurat dan kebencanaan. Meliputi kesiapsiagaan, pertolongan dan evakuasi korban, navigasi, survival, kerja sama tim, kedisiplinan, ketahanan fisik dan mental, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), water rescue, serta manajemen rescue.
Sopian Awaludin, mengatakan, pelatihan tersebut memberikan bekal yang sangat dibutuhkan ketika harus berada di lokasi bencana. “Di dalamnya peserta dilatih terkait kesiapsiagaan, pertolongan dan evakuasi korban, navigasi, survival, kerja sama tim, kedisiplinan, serta ketahanan fisik dan mental,” ujar Sopian kepada https://news.berbagi.id Senin (1/9/2026).
Menurut dia, kemampuan tersebut sangat penting karena relawan tidak hanya membutuhkan kemauan untuk menolong, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan saat menghadapi kondisi darurat.
“Ketika terjadi bencana, semangat untuk membantu saja tidak cukup. Dibutuhkan ilmu, keterampilan, fisik, mental, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja dalam sebuah tim,” katanya.
Dibekali PPGD hingga Water Rescue

Personel Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI berhasil mengikuti pelatihan dengan baik.
Salah satu materi utama dalam Diksarnas VI adalah Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Materi tersebut memberikan pembekalan kepada peserta untuk dapat memberikan pertolongan awal ketika menemukan korban dalam kondisi darurat.
Sopian menjelaskan, kemampuan PPGD tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga medis. Relawan perlu memahami batas kemampuan dan tindakan yang dapat dilakukan saat memberikan pertolongan pertama tersebut.
“PPGD bukan agar relawan menjadi dokter, tetapi saat menemukan korban dalam kondisi darurat, relawan tidak hanya punya niat menolong, namun tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan,” ujarnya.
Selain PPGD, peserta juga mendapatkan materi water rescue dan manajemen rescue.
Aspri Suseno, relawan HSI BERBAGI lainnya yang mengikuti kegiatan tersebut, mengatakan bahwa peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai manajemen penyelamatan serta bagaimana relawan harus bertindak ketika berada di lapangan.
“Kami banyak belajar di I-DERU ini tentang bagaimana manajemen rescue dari A sampai Z, serta bagaimana relawan ketika turun ke lapangan,” kata Aspri.
Niat Menolong dan Kemampuan
Sopian menilai standarisasi kemampuan SAR sangat diperlukan bagi relawan HSI Berbagi. Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai potensi bencana, sehingga relawan wajib memiliki kemampuan dasar yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Ia menyebutkan beberapa kemampuan penting yang harus dimiliki relawan, antara lain keselamatan diri, pertolongan pertama, evakuasi, navigasi, komunikasi, dan pengenalan risiko. “Intinya, niat menolong harus dibarengi dengan kemampuan menolong yang benar,” kata Sopian.
Ia juga menilai kemampuan standar yang dimiliki dapat membantu relawan bekerja lebih padu dalam satu tim, sekaligus memudahkan koordinasi dengan unsur-unsur lain di lokasi bencana.
Menurut Sopian, HSI Berbagi perlu memiliki relawan inti yang memiliki keahlian lebih dalam bidang kebencanaan. Relawan inti tersebut nantinya siap diterjunkan sewaktu-waktu, sekaligus dapat berbagi pengetahuan kepada relawan lainnya.
“Semangat kemanusiaan adalah modal awal. Namun, ketika masuk ke medan bencana, semangat harus bertemu dengan ilmu, standar keselamatan, SOP, keterampilan, dan kemampuan bekerja dalam tim,” ujarnya.
Menuntut Kondisi Fisik yang Prima
Selain mendapatkan materi teori, peserta Diksarnas VI juga menjalani latihan lapangan secara intensif. Sopian mengungkapkan salah satu pengalaman yang paling berkesan selama kegiatan adalah harus menjalankan tugas dalam kondisi fisik yang lelah dan waktu istirahat yang terbatas.
“Yang paling terasa, justru bagaimana kita belajar bekerja dalam kondisi lelah, tidur terbatas, medan yang tidak mudah, kemudian harus tetap fokus menjalankan tugas dan bekerja sama dengan tim,” katanya.
Kondisi ekstrem tersebut menjadi pengalaman berharga untuk memahami pentingnya kekompakan, disiplin, komunikasi, dan sikap saling menguatkan dalam tim.
“Diksar ini bukan cuma menguras tenaga, tetapi juga memberikan banyak pengalaman dan pelajaran yang insyaAllah bermanfaat ketika nanti turun ke lapangan,” ujarnya.
Dorong Kolaborasi Antarrelawan

Pelatih I-DERU, Coach Irawan Wahyudi, mengapresiasi komitmen dan keikutsertaan lima relawan HSI Berbagi dalam Diksarnas VI.
“Alhamdulillah diksar ini bisa dihadiri oleh teman-teman dari HSI Berbagi. Terima kasih karena teman-teman sudah mengikuti kegiatan ini dengan baik,” ujar Irawan.
Menurut Irawan, keikutsertaan relawan dari berbagai kelompok terbukti dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam aksi kemanusiaan. “Diharapkan terjadi kolaborasi di antara kita karena prinsip kami adalah all volunteers are family, semua relawan adalah keluarga,” katanya.
Ia berharap hubungan yang terbangun selama pelatihan dapat dilanjutkan dalam bentuk kolaborasi nyata di bidang penanggulangan bencana.
Menjadi Bekal Terbaik
Setelah mengikuti Diksarnas VI I-DERU, Sopian menyebutkan bahwa dirinya mendapatkan tambahan pengetahuan dan pengalaman berharga mengenai SAR, PPGD, teknik menghadapi kondisi darurat, kedisiplinan, kekompakan, serta kepemimpinan.
Pengalaman tersebut memberikan pemahaman mendalam bahwa kesiapan fisik dan ilmu menjadi bagian paling penting dari tugas seorang relawan.
“Menjadi relawan bukan sekadar tentang keberanian untuk turun membantu, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri agar benar-benar mampu memberikan pertolongan dengan tepat dan tetap menjaga keselamatan,” ujarnya.
Mendapat kesempatan belajar dan berlatih, Sopian menyampaikan rasa terima kasih kepada LAZ HSI Berbagi serta para muhsinin (donatur) yang telah mendukung penuh keikutsertaan mereka dalam Diksarnas VI I-DERU.
“Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh bisa menjadi bekal untuk memberikan pelayanan kemanusiaan bersama HSI BERBAGI dengan lebih baik,” ungkapnya meyakinkan. (sbn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar