Leny Hasanah-PMK

Program Muslim Kreatif HSI BERBGI Bacth 4 saat ini tengah berjalan dan siap mencetak teknisi service HP baru yang andal. Poster, tim desain HSI BERBAGI.
Makassar, news.berbagi.id– Memiliki keterampilan yang mumpuni menjadi salah satu bekal paling berharga untuk membuka peluang hidup yang lebih baik. Dari tangan yang terampil pula, lahir harapan untuk mandiri, membantu keluarga, dan menatap masa depan dengan lebih optimis.
Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan yang dicari saat ini, tak dipungkiri banyak pemuda di pelosok negeri sebenarnya memiliki semangat untuk bangkit. Namun, karena keterbatasan biaya membuat mereka tak memiliki keterampilan yang cukup untuk mendapatkan penghasilan sebagai bekal hidup sehari-hari dan membantu keluarga.
Berangkat dari semangat pemberdayaan inilah, LAZ HSI BERBAGI menghadirkan Program Muslim Kreatif (PMK) Pelatihan Service Handphone sejak tahun 2023. Program ini ditujukan bagi peserta keluarga dhuafa, baik santri HSI maupun keluarganya, agar memiliki keterampilan aplikatif untuk menambah pundi-pundi rupiah serta memperbaiki taraf hidup.
Pada batch #1, sebanyak 14 peserta dari berbagai daerah diboyong untuk mengikuti rangkaian pelatihan service HP bersama LPKS Borneo Flasher Indonesia di Boyolali, Jawa Tengah. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, tetapi membawa semangat yang seragam: memperoleh keterampilan dan kesempatan hidup lebih baik.
Kini, program itu telah memasuki batch #4. Sudah tiga tahun berlalu sejak angkatan pertama dimulai. Sebagian alumni kini telah bekerja, membuka jasa service secara mandiri, hingga membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Nah, seperti apa perjalanan para alumnus setelah pelatihan itu usai? Sejauh mana program ini memberikan perubahan dalam kehidupan, pekerjaan, dan kondisi ekonomi mereka?
Dari Ojek Online Menjadi Karyawan Tetap

Pembelajaran yang intensif memberikan bekal ilmu mumpuni bagi para alumnus teknisi service HP dalam setiap angkatan yang mengikuti program ini.
Adalah Ade Junardi, salah satu peserta Pelatihan Service HP Batch #1, turut merasakan perubahan setelah mengikuti program tersebut. Menurutnya, hasil yang dirasakan para alumnus memang berbeda-beda. Ada yang memperoleh penghasilan sederhana, ada yang setara UMR, bahkan ada pula yang berhasil meraih penghasilan hingga dua digit.
”Sebelum mengikuti pelatihan ini, saya bekerja freelance sebagai ojek online. Alhamdulillah, setelah ikut pelatihan dan menjalani masa magang selama tiga bulan, saya diberi kesempatan untuk bekerja di Borneo hingga akhirnya menjadi karyawan tetap,” jelas santri HSI angkatan 2016 itu penuh semangat.
Saat ini, Ade mendapat amanah di bagian prepare, yaitu menyiapkan berbagai kebutuhan dan perangkat yang digunakan dalam proses pekerjaan teknisi di tempatnya bekerja.
Baginya, pelatihan ini bukan hanya memberinya keterampilan baru, tetapi juga membuka jalan penghidupan yang lebih stabil. Meski demikian, ia mengaku masih memiliki impian untuk terus berkembang dan meningkatkan kemampuan diri.
“Insyaallah ke depan saya ingin terus maju dan berkembang. Selama masih ada kesempatan belajar, saya tidak ingin hanya jalan di tempat,” tuturnya.
Bekal Terbatas, Tinggalkan Keluarga
Nikmat perubahan hidup yang tak kalah besar juga dialami Wildan, peserta Batch #1 yang kini berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan.
Sebelum mengikuti pelatihan, Wildan mengaku kehidupannya penuh dengan keterbatasan. Ia juga menghadapi ujian berat ketika berhijrah dari lingkungan lamanya, kemudian menjadi santri HSI AbdullahRoy. Penolakan dan tantangan dari keluarga, maupun lingkungan sekitar sempat menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di tengah kondisi tersebut, sang istri yang terlebih dahulu bergabung sebagai santri HSI AbdullahRoy menjadi jalan awal dirinya mengenal Program Pelatihan Service HP. Awalnya, sama sekali tidak tertarik mengikuti pelatihan tersebut, karena merasa tidak memiliki dasar kemampuan di bidang teknisi HP.
“Istri saya bilang, jangan lihat pelatihannya, tapi lihat ada kesempatan bisa ngaji langsung bersama ustadz-ustadz HSI. Dari situ saya mulai berani daftar dengan niat ingin memperbaiki diri,” kenangnya.
Perjalanan mengikuti pelatihan pun bukan perkara mudah. Ia harus meninggalkan istri dan anak-anak di rumah dengan kondisi bekal yang sangat terbatas. Namun di tengah perjuangan itu, ia merasakan banyak pertolongan Allah yang datang tanpa disangka-sangka. “Alhamdulillah, atas izin Allah, saya bisa mengikuti program ini hingga selesai,” ujarnya.
Setelah pelatihan selesai, perubahan dalam hidup Wildan mulai terasa. Ia dipertemukan dengan para teknisi yang bersedia membimbing dan membagikan ilmu mereka. Kemampuan teknisnya perlahan kian matang, hingga akhirnya ia beberapa kali mendapatkan tawaran pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik.
“Alhamdulillah sekarang saya menjadi orang kepercayaan di tempat kerja dan juga belajar manajemen kantor,” tuturnya.
Perubahan ekonomi pun mulai dirasakan. Satat ini Wildan mengaku dapat hidup lebih mandiri secara finansial dan perlahan mampu menyelesaikan berbagai tanggungan hidupnya.
“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa kontrak rumah dan mandiri secara finansial. Insyaallah tahun depan ada rencana membeli tanah dan membangun rumah,” ungkapnya penuh syukur.
Bisa Menikah dan Mandiri

Pelatihan memberikan perubahan hidup lebih mandiri secara finansial dan mampu menopang ekonomi keluarga. Foto-foto; Dok HSI BERBAGI.
Kisah perjuangan dan perubahan hidup yang dirasakan juga datang dari alumnus Batch #2, Faishal. Meski saat ini dirinya tidak berperan langsung sebagai teknisi reparasi handphone, ia tetap bekerja di lingkungan industri service HP dan menangani proses bongkar pasang komponen mesin handphone di Borneo.
Menurutnya, Program Pelatihan Service HP menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya setelah sempat menganggur hampir setahun lamanya.
“Alhamdulillah, perubahan yang saya rasakan sangat luar biasa. Sebelum ikut pelatihan, saya menganggur cukup lama. Melalui wasilah HSI Berbagi, saya dipertemukan dengan tempat kerja sekarang yang memberikan penghasilan di atas UMR,” ujarnya.
Penghasilan yang lebih stabil membuatnya mulai mandiri secara finansial. Ia bahkan sudah dapat membantu kebutuhan orang tua dan adik-adiknya sambil menabung untuk masa depan.
“Alhamdulillah, yang tadinya masih bujang, sekarang sudah menikah. Sudah lima bulan,” tuturnya penuh syukur.
Bagi Faishal, bidang service HP memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena kebutuhan masyarakat terhadap handphone terus meningkat dari waktu ke waktu.
“HP sudah menjadi alat komunikasi yang dipakai hampir semua orang. Bahkan ada yang punya lebih dari satu. Karena itu, pekerjaan teknisi HP menurut saya tidak akan hilang, bahkan akan semakin dibutuhkan,” jelasnya.
Kisah para alumnus Program Muslim Kreatif HSI Berbagi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pelatihan keterampilan dapat membuka peluang penghidupan yang lebih baik bagi peserta dari keluarga dhuafa.
Profesi yang Menjanjikan
Ketua Program Muslim Kreatif (PMK) LAZ HSI Berbagi, Sokhidin mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan para peserta Pelatihan Service HP mulai dari batch #1 hingga batch #3. Menurutnya, mayoritas peserta menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. (baca juga; https://news.berbagi.id/pmk-batch-3-perjalanan-hijrah-menuju-perubahan-hidup)
”Kami terus memonitor perkembangan mereka secara berkala. Kami juga memiliki grup WhatsApp di setiap angkatan, dan terakhir melakukan pembaruan perkembangan pada 13 Januari 2026 lalu,” ujarnya mantap.
Ia menjelaskan, para alumni kini menempuh jalan yang beragam. Ada yang membuka usaha sendiri, bekerja di tempat service HP, hingga menjalin kolaborasi dengan pemilik usaha menggunakan sistem bagi hasil.
”Teknisi HP adalah profesi yang cukup menjanjikan. Di zaman sekarang hampir semua orang mempunyai gawai. Karena itu, sektor jasa ini memiliki peluang kerja dan pangsa pasar yang luas,” imbuhnya.
Dia menambahkan, satu konter service HP bahkan dapat merekrut sedikitnya enam orang teknisi dengan jam operasional dari pagi hingga malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa bidang service HP tidak hanya membuka peluang penghasilan, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Melihat kans tersebut, LAZ HSI Berbagi kembali membuka Program Pelatihan Teknisi Service HP untuk Batch #4.
”Batch #4 saat ini sedang dalam proses seleksi dan verifikasi. Insyaaallah, sesuai timeline yang ada, peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari bootcamp pembekalan agama, dilanjutkan dengan teori dan praktek di LPKS Borneo Flasher Indonesia di Boyolali,” terang Sokhidin.
Tentunya, Program Pelatihan Teknisi Service HP yang kini telah memasuki Batch #4 menjadi salah satu bentuk ikhtiar pemberdayaan ekonomi umat yang terus berkembang.
Harapannya, program ini tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan keluarga peserta, tetapi juga melahirkan tenaga kerja terampil yang tetap mengedepankan nilai syariat, adab, dan semangat muamalah yang baik di tengah masyarakat.(sbn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar