Leny Hasanah- Berita

Baznas RI mengunjungi Kantor Pusat LAZ HSI Berbagi di Bantul, Yogyakarta, menjalin kemitraan yang saling menguatkan dalam tata kelola lembaga, dan tertib regulasi sebagai kunci lembaga zakat yang berkelanjutan berdampak nyata bagi umat. Foto; Dok HSI Berbagi.
Yogyakarta, news.berbagi.id– Suasana hangat terasa di Kantor LAZ HSI Berbagi, Bantul, Yogyakarta, Rabu (26/2/2026). Siang itu, jajaran BAZNAS dan pengurus HSI Berbagi duduk bersama dalam satu semangat: memperkuat kolaborasi pengelolaan zakat demi kemaslahatan umat.
Kunjungan BAZNAS ini membawa agenda Sosialisasi Regulasi dan Pendampingan Laporan LAZ. Namun, lebih dari sekadar pembahasan administratif, pertemuan tersebut berkembang menjadi dialog terbuka tentang masa depan sinergi lembaga zakat.
Direktur LAZ HSI Berbagi, Qodri Abu Hamzah, menyampaikan bahwa pendampingan ini menjadi langkah penting agar pengelolaan lembaga tetap tertib secara regulasi, sekaligus berdampak nyata di lapangan. Menurutnya, kesesuaian antara aturan, tata kelola, dan implementasi program adalah kunci keberlanjutan lembaga zakat.
Dari pihak BAZNAS, hadir Mohd Basit A Karim selaku Kabag Koordinasi, Kerja sama, dan Harmonisasi serta Syukri Yandi selaku Staff Koordinasi LAZ. Sementara dari LAZ HSI Berbagi hadir Ketua Dewan Pengurus, Coach Ihsan, Anggota Dewan Pengurus, Dona Setia Hadi, Qodri Abu Hamzah, Wakil Direktur LAZ, Angga Pratama, Manager Penghimpunan, Gaya Saripudin, dan tim Markom, yaitu Muhammad Gigih, Yusuf, dan Bayhaqqi.

Dalam dialog tersebut, BAZNAS menegaskan satu hal penting: hubungan antara BAZNAS dan LAZ, termasuk LAZ HSI Berbagi adalah kemitraan yang saling menguatkan.
“BAZNAS dan LAZ adalah mitra, bukan kompetitor. Jika ada program yang bisa dikolaborasikan, maka bersinergilah, jangan sungkan untuk saling mengajak,” pesan Mohd Basit A Karim, Kabag Koordinasi, Kerja sama, dan Harmonisasi Baznas.
Tak hanya membahas regulasi, pertemuan ini juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas, mulai dari kolaborasi program, penguatan sumber daya manusia, hingga proses penghimpunan dan penyaluran zakat di daerah masing-masing. BAZNAS bahkan, secara terbuka menawarkan dukungan peningkatan kapasitas, seperti pelatihan, magang, dan penguatan literasi zakat apabila dibutuhkan.
Yang menarik, BAZNAS juga mengingatkan agar lembaga zakat tidak hanya berfokus pada angka penghimpunan. Edukasi kepada masyarakat dinilai jauh lebih penting untuk membangun kesadaran menunaikan zakat yang berkelanjutan.
“Lebih mengutamakan edukasi tentang zakat, bukan sekadar penghimpunan. Jangan menjadikan target sebagai patokan, tetapi mengabaikan hal yang konkret. Zakat itu dari umat untuk umat agar bisa lebih kuat,” ungkap Qodri menegaskan komitmennya.
Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kekuatan zakat bukan hanya pada nominal yang terkumpul, tetapi pada kesadaran umat yang tumbuh dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Pertemuan ini pun diharapkan menjadi awal dari sinergi yang berkelanjutan, dengan tujuan yang sama: memprioritaskan kepentingan umat, memperkuat pemberdayaan, serta berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Sejalan dengan syariat dan regulasi yang ditetapkan pemerintah.(sbn)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar