Anak Krakatau Erupsi, HSI BERBAGI Kirim 55 Box Masker ke Lembaga Pendidikan di Pandeglang

By: hardi

Leny Hasanah- Tanggap Bencana LAZ HSI BERBAGI

Tim Tanggap Bencana HSI BERBAGI salurkan bantuan masker ke lembaga pendidikan STIT Riyadhussholihiin dan Ma’had Ilmi HSI AbdullahRoy di Pandeglang. Hal ini dilakukan sebagai respons cepat dampak abu vulkanik akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto-foto; Dok HSI BERBAGI.

Pandeglang, news.berbagi.id — LAZ HSI BERBAGI menyalurkan 55 box masker kepada mahasiswa, santri, assatidz, dan civitas akademika di dua lembaga pendidikan dan dakwah di Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/9/2026). Bantuan diberikan menyusul dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026.

Penyaluran dilakukan melalui Tim Tanggap Bencana (TB) HSI BERBAGI di dua lokasi, yakni STIT Riyadhussholihiin dan Ma’had Ilmi HSI AbdullahRoy. Masker dibagikan kepada mahasiswa, civitas akademika, dan masyarakat sekitar sebagai ikhtiar membantu melindungi mereka saat menjalankan aktivitas pendidikan dan dakwah.

Membantu Aktivitas di Tengah Paparan Abu

Masker menjadi salah satu kebutuhan penting untuk membantu melindungi saluran pernapasan masyarakat selama beraktivitas di lingkungan yang masih terdampak abu vulkanik.

Agung Abu Uswah, Ketua Program TB HSI Berbagi, mengatakan, Pandeglang merupakan salah satu wilayah dakwah Ustadz Dr. AbdullahRoy. Karena itu, HSI Berbagi berupaya hadir memberikan atensi kepada masyarakat yang terdampak.

“Pandeglang merupakan wilayah dakwah Ustadz AbdullahRoy. Jadi, sebisa mungkin HSI Berbagi hadir memberikan perhatian khusus,” ujar Agung ketika dihubungi redaksi news.berbagi.id di Solo, Rabu (9/9/2026).

Dia berharap, upaya mengirimkan bantuan masker dapat membantu santri, assatidz, dan mahasiswa tetap menjalankan aktivitas belajar mengajar di tengah kondisi yang terdampak abu vulkanik.

“HSI BERBAGI ingin hadir membantu masyarakat sekitar Ma’had Ilmi dan STIT Riyadhussholihiin. Semoga bantuan masker ini dapat memberikan manfaaat bagi santri maupun assatidz dalam menjalani kegiatan belajar mengajar di Ma’had dan pondok,” ungkap Agung.

HSI Berbagi juga menyiapkan penyaluran bantuan tahap kedua dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan yang diberikan tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana yang memerlukan perhatian dan bantuan.

Apresiasi dari Lingkungan Pendidikan dan Dakwah

Pihak Yayasan Riyadhussholihiin menyambut baik bantuan yang diberikan HSI BERBAGI. Suhendri, M.Ag., Ketua Program Idad Lughowi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian tersebut.

“Saya mewakili Yayasan Riyadhussholihiin jazaakumullahu khairan kepada HSI Berbagi yang telah memberikan bantuan masker untuk mengurangi dampak debu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 4 September 2026,” ujar Suhendri.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang lebih baik dan memberikan kemudahan dalam segala urusan,” lanjutnya.

Rasa syukur juga disampaikan oleh Hilmy Muflikhar Chaidar, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Ma’had Ilmy HSI AbdullahRoy.

“Alhamdulillah, kami bersyukur HSI Berbagi telah menyalurkan masker kepada santri-santri dalam situasi abu vulkanik. Semoga Allah memberikan balasan kepada para muhsinin yang telah menginfakkan sebagian hartanya untuk masker ini,” ungkap Hilmy.

Penyaluran 55 box masker ini menjadi bagian dari respons HSI Berbagi terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pandeglang. Tim Tanggap Bencana HSI Berbagi akan terus memantau kondisi dan kebutuhan masyarakat untuk menentukan langkah bantuan berikutnya.

Imbas Abu Vulkanik, 8 Bandara Ditutup

Merespons dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau, BMKG, mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi situasi saat ini. Ditegaskan, BMKG bersama seluruh instansi terkait terus mengawal dan memantau pergerakan abu vulkanik serta potensi bahaya bencana secara nonstop selama 24 jam. 

Terkait  langkah penutupan sementara delapan bandara merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa BMKG telah menerbitkan sebanyak 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama terjadi pada 4 September 2026. SIGMET terbaru (7 September 2026 pukul 06.30–09.30 WIB) mencatat sebaran abu vulkanik teramati pada ketinggian hingga 15.000 kaki (4,57 km), bergerak ke arah barat dengan kecepatan 15 knot dan intensitas yang konsisten.

“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri.

Berdasarkan hasil monitoring, pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian hingga 15.000 kaki (4,57 km), abu vulkanik meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu, serta perairan sekitarnya dan Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut.

Sementara pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki (15,24 km), abu vulkanik teramati lebih jauh di Samudra Hindia sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten—serta menjauhi wilayah Indonesia.

Sebaran abu vulkanik di udara berdampak langsung dan mengganggu keselamatan penerbangan. Hasil pengujian paper test pada pukul 07.00 WIB mengonfirmasi indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara. Merespons kondisi tersebut, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) hingga pukul 08.30 WIB yang menginstruksikan otoritas untuk menutup sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.

Kebijakan penutupan operasional sementara ini memengaruhi delapan bandara di wilayah Sumatra dan Jawa, yaitu Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II, dan Bandara Husein Sastranegara (Bandung). Selain itu, otoritas juga menghentikan sementara aktivitas penerbangan di Bandara Budiarto (Curug), Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan), Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (Pesisir Barat, Lampung), serta Bandara Atungbusu (Sumatra Selatan).

“Hasil paper test tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi hasil pemantauan sebaran abu vulkanik melalui citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai wilayah yang terdampak,” ujarnya menegaskan. (sbn)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *